100 Hari Pemerintahan Trump: Mengasingkan Ukraina, Menghangatkan Hubungan Rusia

100 Hari Pemerintahan Trump: Mengasingkan Ukraina, Menghangatkan Hubungan Rusia

bcouleur.com, 21 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Pendahuluan: Kembali ke Gedung Putih, Visi yang Sama

Trump Minta Ukraina Kembalikan Uang Bantuan dari AS Terkait Perang

Ketika Donald J. Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2025, dunia menyaksikan dengan penuh kewaspadaan. Salah satu janji kampanye yang paling mencolok adalah tekadnya untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina dalam waktu 24 jam setelah ia menjabat. Retorika ini memicu beragam tanggapan—dari skeptisisme tajam hingga harapan yang hati-hati.

Namun, seiring waktu berjalan, terlihat bahwa pendekatan Trump terhadap konflik tersebut lebih bersifat pragmatis, penuh kalkulasi politis, dan dalam banyak hal, lebih condong ke arah Rusia daripada Ukraina. Dalam 100 hari pertama pemerintahannya, Trump melakukan berbagai manuver diplomatik dan kebijakan luar negeri yang menunjukkan pergeseran geopolitik besar dalam posisi Amerika Serikat, baik terhadap konflik di Eropa Timur, maupun terhadap sekutu-sekutunya di NATO dan Uni Eropa.


Janji Perdamaian dan Penunjukan Keith Kellogg

Gedung Putih Ungkap Trump Pasti Terapkan Tarif Baru pada Meksiko, Kanada,  dan China - Suara Surabaya

Untuk menunjukkan keseriusan atas janji perdamaian tersebut, Trump segera menunjuk Letnan Jenderal (Purn.) Keith Kellogg sebagai utusan khusus untuk penyelesaian konflik Rusia-Ukraina. Kellogg, seorang veteran militer dan penasihat keamanan nasional era Trump pertama, diberi mandat untuk membuka jalur diplomatik dengan Moskow dan Kyiv, serta mencari formula perdamaian dalam waktu 100 hari sejak pelantikan.

Trump menyebut penunjukan ini sebagai “misi damai yang menentukan masa depan Eropa dan dunia.” Namun, dari awal, tantangan diplomatik sangat kompleks, terutama karena ketegangan antara Zelensky dan Putin yang semakin memuncak, serta ketidakpercayaan terhadap netralitas AS di bawah kepemimpinan Trump.


Ketegangan dengan Ukraina: Hubungan yang Membeku Trump Desak Rusia Berdamai dengan Ukraina, Ancam Beri Sanksi ke Perbankan |  tempo.co

Walaupun Trump menyatakan Ukraina sebagai prioritas, kenyataan menunjukkan bahwa hubungan antara Washington dan Kyiv semakin memburuk dalam beberapa minggu pertama pemerintahannya. Beberapa faktor utama pemicu ketegangan ini antara lain:

  1. Pemotongan Bantuan Militer
    Trump menghentikan sementara paket bantuan militer yang telah disetujui Kongres untuk Ukraina. Ia menyebut perlunya “audit menyeluruh” terhadap bagaimana Ukraina menggunakan dana tersebut, sebuah langkah yang mengingatkan banyak pihak pada skandal penahanan bantuan militer yang melatarbelakangi pemakzulannya di masa jabatan pertama.

  2. Pernyataan Sarkastik tentang Janji 24 Jam
    Dalam sebuah konferensi pers di bulan Maret, Trump mengakui bahwa klaim kampanye untuk menyelesaikan perang dalam 24 jam adalah “sedikit hiperbolik.” Pernyataan itu membuat frustrasi banyak pendukung Ukraina yang berharap akan langkah cepat dan nyata dari Washington.

  3. Pertemuan Oval Office yang Tegang
    Dalam kunjungan resmi ke Gedung Putih, Presiden Volodymyr Zelensky dilaporkan merasa diperlakukan tidak hormat oleh Trump. Ia ditanyai soal komitmen negaranya terhadap “transparansi dan akuntabilitas,” sementara Trump lebih banyak berbicara tentang potensi Ukraina sebagai pasar energi dan bukan sebagai korban agresi militer.


Trump–Putin: Hubungan yang Makin Mesra

Lewat Telepon, Trump dan Putin Bahas Penyelesaian Perang di Ukraina

Di sisi lain, Trump memperkuat hubungan pribadinya dengan Presiden Vladimir Putin, sesuatu yang telah menjadi ciri khas sejak masa jabatan pertamanya. Pertemuan bilateral pertama mereka pada masa jabatan baru ini dilakukan di Paris pada Januari 2025, hanya beberapa hari setelah pelantikan Trump.

Dalam pertemuan tersebut:

  • Trump dan Putin membahas pengurangan ketegangan di Ukraina, namun tidak melibatkan Ukraina secara langsung dalam sebagian besar sesi.

  • Trump memuji Putin sebagai “seorang pemimpin yang kuat dan berpikir strategis.”

  • Kedua pemimpin sepakat membentuk “komite stabilitas regional” yang sayangnya tidak melibatkan negara-negara NATO maupun Ukraina.

Langkah-langkah ini menimbulkan kecurigaan bahwa Trump sebenarnya sedang mengupayakan normalisasi hubungan dengan Rusia, bahkan jika itu berarti mengorbankan posisi Ukraina.


Easter Truce: Gencatan Senjata yang Gagal

Donald Trump dice que se reunirá “muy pronto” con Putin para poner fin a la  guerra en Ucrania - El Nuevo Día

Upaya perdamaian pertama yang dipublikasikan secara luas adalah inisiatif “Gencatan Senjata Paskah” (Easter Truce). Setelah diplomasi intensif, Putin mengumumkan penghentian serangan selama 30 jam untuk menghormati perayaan Paskah Kristen Ortodoks.

Namun kenyataannya:

  • Serangan tetap dilaporkan di wilayah timur Ukraina, termasuk pengeboman di dekat Kyiv.

  • Kedua pihak saling menyalahkan atas pelanggaran.

  • Ukraina menilai gencatan senjata tersebut sebagai propaganda Kremlin untuk menenangkan opini publik global.

Trump, dalam pernyataannya, menyatakan kekecewaan terhadap kurangnya itikad baik dari kedua pihak, namun lebih banyak mengecam Ukraina karena “tidak cukup fleksibel.”


Kritik dan Reaksi Internasional

Trump Komunikasi Baik dengan Putin, Tapi Tidak dengan Ukraina - Suara  Surabaya

Langkah-langkah Trump menimbulkan kegelisahan besar di panggung internasional, terutama di kalangan sekutu-sekutu tradisional AS. Beberapa tanggapan yang menonjol antara lain:

  • NATO: Sekretaris Jenderal menyatakan bahwa komitmen kolektif terhadap pertahanan Ukraina tetap kuat, meskipun tanpa dukungan penuh dari AS.

  • Uni Eropa: Beberapa negara Eropa, terutama Jerman, Prancis, dan Polandia, mulai menyuarakan pentingnya membangun kekuatan militer independen untuk menggantikan kebergantungan pada AS.

  • Media Global: Editorial di The Times dan The Washington Post mempertanyakan integritas moral Trump dalam urusan luar negeri, menyebutnya lebih condong kepada “politik transaksional” daripada diplomasi berbasis nilai.


Analisis: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Trump Sebut Ia dan Putin Bisa Capai Hal "Signifikan" untuk Akhiri Perang  Ukraina

Pendekatan Trump terhadap konflik Rusia-Ukraina tidak bisa dipisahkan dari visi globalnya yang unik:

  • Ia melihat konflik global sebagai masalah efisiensi dan negosiasi, bukan ideologi atau moralitas.

  • Ia percaya bahwa hubungan personal antara pemimpin dunia dapat menciptakan perdamaian lebih cepat daripada lembaga multilateral seperti NATO atau PBB.

  • Ia lebih tertarik pada peningkatan hubungan bilateral yang menguntungkan secara ekonomi dan strategis, meskipun harus mengorbankan prinsip-prinsip lama diplomasi AS.

Namun, banyak analis melihat bahwa pendekatan ini justru melemahkan posisi global AS, membuat sekutu-sekutu meragukan keandalannya, dan memperkuat posisi aktor otoriter seperti Rusia dan Tiongkok.


Kesimpulan: Seratus Hari yang Menandai Pergeseran Sejarah

Dalam 100 hari pertama masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump telah menunjukkan bahwa AS di bawah kepemimpinannya tidak lagi memimpin melalui aliansi, tetapi melalui diplomasi langsung dan selektif. Hubungan yang memburuk dengan Ukraina dan semakin eratnya hubungan dengan Rusia menandai pergeseran geopolitik besar yang dampaknya mungkin baru akan terasa dalam tahun-tahun mendatang.

Konflik Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan diplomasi Trump sejauh ini lebih banyak menciptakan kebingungan daripada solusi nyata. Dalam dunia yang semakin kompleks dan multipolar, masa depan perdamaian dan keamanan di Eropa tampaknya kini tidak lagi ditentukan dari Washington saja.

BACA JUGA: Trump Bekukan Dana Harvard Rp 36,5 Triliun: Ketegangan Antara Politik dan Otonomi Akademik

BACA JUGA: Wanita Melahirkan di Jalan dan Meninggalkan Bayinya Demi Merayakan Festival Songkran: Sebuah Insiden yang Memprihatinkan

BACA JUGA: Uni Eropa Umumkan Bantuan Rp 29 Triliun untuk Palestina: Fokus pada Pemulihan Layanan Publik, Pembangunan Infrastruktur, dan Ketahanan Gaza