Trump Klaim Sedang Negosiasi Dagang dengan China, Namun Beijing Membantah

Trump Klaim Sedang Negosiasi Dagang dengan China, Namun Beijing Membantah

bcouleur.com, 25 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Jreng! China Bantah Nego Tarif dengan AS, Trump Sebar 'Berita Palsu'?

Washington, D.C. / Beijing — Pada sebuah wawancara eksklusif dengan sebuah jaringan media konservatif, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, membuat pernyataan yang mengejutkan publik dengan klaim bahwa ia sedang terlibat dalam negosiasi dagang dengan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok. Menurut Trump, beberapa perwakilan dari pihaknya telah melakukan komunikasi awal dengan pejabat tinggi China terkait potensi perjanjian dagang baru yang dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi ekonomi Amerika Serikat.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa dia bisa mencapai kesepakatan yang lebih baik dengan China dibandingkan dengan pendekatan yang diambil oleh pemerintahan Presiden Joe Biden. Klaim ini menambah dimensi baru dalam kampanye politik Trump, yang sedang bersiap untuk kembali maju dalam pemilihan presiden 2024.

“China tahu siapa yang dapat bernegosiasi dengan mereka, dan siapa yang hanya berbicara. Kami telah memulai pembicaraan dan saya rasa kita akan mencapai kesepakatan besar, jika waktunya tepat,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa jika terpilih kembali sebagai presiden, ia akan mengubah dinamika perdagangan antara kedua negara secara signifikan.

Namun, klaim ini segera dibantah oleh pihak pemerintah China. Pada konferensi pers reguler, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menanggapi pernyataan Trump dengan tegas. Wang menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan dagang yang sedang berlangsung antara Beijing dan Trump, atau pihak yang tidak memiliki kewenangan resmi mewakili pemerintah AS.

“Kami tidak memiliki komunikasi semacam itu dengan individu atau pihak-pihak yang tidak terlibat langsung dalam pemerintahan AS yang sah. Semua negosiasi resmi yang terkait dengan masalah perdagangan atau hubungan bilateral lainnya hanya dapat dilakukan dengan pemerintah yang sedang berkuasa di Washington,” ujar Wang.

Latar Belakang Hubungan Dagang AS-China

Presiden China Xi Jinping Kirim Pesan 'Semoga Cepat Sembuh' kepada Donald  Trump - Halaman 3 - TribunNews.com

Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China telah menjadi isu utama dalam politik global, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Selama masa kepresidenan Donald Trump (2017–2021), kedua negara terlibat dalam trade war yang sengit, di mana Trump menerapkan tarif impor yang sangat tinggi terhadap barang-barang China sebagai langkah untuk menekan negara tersebut agar mengubah praktik perdagangan yang dianggap merugikan AS. Kebijakan tersebut memicu ketegangan yang meluas, berdampak pada pasar global, dan menyebabkan gangguan dalam rantai pasokan internasional.

Trump berpendapat bahwa China melakukan praktik dumping (penjualan barang dengan harga lebih rendah daripada harga pasar) dan mencuri kekayaan intelektual AS, serta tidak memberikan akses yang setara bagi perusahaan-perusahaan AS untuk beroperasi di pasar China. Sebagai respons, Trump meningkatkan tarif terhadap barang-barang China hingga ratusan miliar dolar, yang memicu pembalasan serupa dari Beijing.

Namun, setelah beberapa tahun ketegangan, pada Januari 2020, kedua negara akhirnya menandatangani Phase One Trade Deal, yang mencakup komitmen China untuk meningkatkan pembelian barang dan layanan asal AS, meskipun beberapa masalah penting, seperti isu tarif dan akses pasar, tetap belum terselesaikan.

Pemerintahan Presiden Joe Biden, yang mengambil alih kepresidenan pada Januari 2021, cenderung mempertahankan sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump, meskipun dengan pendekatan yang lebih diplomatis dan multilateral. Biden juga menekankan pentingnya bekerja sama dengan sekutu internasional untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kebijakan ekonomi China, seperti kekhawatiran terkait ketidakadilan perdagangan dan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

Strategi Kampanye Trump dan Dampaknya pada Pemilu 2024

Trump Menang, Cina Bersiap akan Ketegangan Tinggi dengan AS – DW –  08.11.2024

Klaim Trump tentang adanya negosiasi dengan China berpotensi menjadi strategi politik untuk menarik perhatian dalam kampanye pemilu 2024. Menjelang pemilihan umum, Trump diketahui sering menggunakan isu-isu besar seperti perdagangan internasional dan kebijakan luar negeri untuk menguatkan citra dirinya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi tantangan global.

Trump dikenal dengan gaya kepemimpinan yang lebih agresif dalam urusan perdagangan, dan selama masa jabatannya, ia sering kali memperlihatkan pendekatan yang tidak konvensional terhadap kebijakan luar negeri, termasuk hubungan dengan China. Klaim tentang negosiasi dagang ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa, jika terpilih kembali, Trump akan menjadi sosok yang lebih tangguh dalam berurusan dengan Beijing.

Trump ingin memberi pesan kepada pemilihnya bahwa ia adalah orang yang tidak hanya bisa berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar akan bertindak dalam menghadapi negara-negara besar seperti China. Ini adalah narasi yang dia bangun selama masa kepresidenannya, dan tampaknya dia ingin kembali menghidupkan narasi tersebut,” kata Michael Davis, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Georgetown.

Namun, beberapa kalangan mengkritik klaim Trump sebagai manuver politik yang tidak realistis dan berisiko. Para analis memperingatkan bahwa meskipun pernyataan tersebut mungkin membantu meningkatkan dukungan di kalangan pemilih konservatif, hal ini juga bisa berisiko menambah ketegangan dengan Beijing jika tidak disertai bukti konkret atau tindakan yang jelas.

Bantahan dari China dan Dampak Terhadap Perdagangan Global

KTT G20: Trump dan Xi Jinping sepakat memulai kembali pembicaraan  perdagangan AS-China - BBC News Indonesia

Bantahan yang diberikan oleh pemerintah China terhadap klaim Trump menunjukkan pentingnya hubungan yang stabil dan transparan antara kedua negara. Beijing dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan resmi yang dilakukan dengan Trump atau pihak yang tidak terafiliasi dengan pemerintahan yang sah. Reaksi ini mencerminkan bagaimana China menjaga kendali atas komunikasi diplomatik dan ekonominya.

Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, China memiliki posisi yang sangat penting dalam perdagangan global. Terlebih lagi, dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan persaingan antara AS dan China dalam beberapa tahun terakhir, hubungan dagang antara kedua negara tetap menjadi topik yang sangat diperhatikan oleh pasar internasional.

Para pelaku pasar dan pengamat ekonomi global menilai bahwa informasi yang datang dari Beijing dan Washington perlu diperhatikan dengan hati-hati, mengingat potensi dampak yang besar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ketegangan dalam hubungan dagang ini dapat mempengaruhi harga komoditas, aliran investasi internasional, dan bahkan kebijakan moneter global.

Kritik terhadap Klaim Trump: Apakah Ini Manuver Politik?

Gaya Jabat Tangan Khas Donald Trump: Cengkeram dan Hentak | kumparan.com

Sementara itu, kritik terhadap klaim Trump datang dari berbagai pihak. Beberapa pengamat politik menilai bahwa pernyataan Trump ini lebih bernuansa politik daripada kebijakan luar negeri yang nyata. Mereka mencatat bahwa meskipun Trump pernah terlibat dalam negosiasi dengan China pada masa pemerintahannya, klaim bahwa ia kembali bernegosiasi tanpa bukti resmi justru bisa memperburuk citranya di mata dunia internasional.

“Ini adalah retorika yang sangat khas dari Trump—berusaha menunjukkan dirinya sebagai negosiator ulung. Namun, tanpa adanya bukti atau konfirmasi yang jelas, klaim ini hanya akan meningkatkan ketidakpastian dan keraguan di kalangan para pengamat,” ujar Fiona Hill, seorang ahli kebijakan luar negeri yang pernah bekerja di Dewan Keamanan Nasional AS.

Lebih jauh lagi, beberapa pakar hukum di AS mengingatkan bahwa komunikasi atau negosiasi dengan negara asing oleh individu yang tidak memiliki kewenangan resmi bisa melanggar hukum Amerika Serikat, khususnya Logan Act, yang melarang individu melakukan diplomasi tanpa izin dari pemerintah yang sah.

Kesimpulan dan Perspektif Ke Depan

Klaim yang dibuat oleh Donald Trump mengenai negosiasi dagang dengan China membuka kembali perdebatan tentang peran kebijakan luar negeri dalam kontestasi politik domestik. Meskipun banyak yang meragukan klaim tersebut, hal ini mencerminkan bahwa hubungan dagang AS–China akan terus menjadi topik penting dalam politik global. Sementara itu, dunia masih menunggu perkembangan lebih lanjut untuk melihat apakah klaim ini akan mengarah pada suatu bentuk kebijakan konkret atau sekadar menjadi alat kampanye politik menjelang pemilu 2024.

Hingga saat ini, baik pemerintah AS maupun China belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai klaim tersebut, dan ketegangan diplomatik antara kedua negara tampaknya akan terus mewarnai dinamika hubungan internasional di tahun-tahun mendatang.

BACA JUGA: Donald Trump Yakin Dapat Capai Kesepakatan Dagang Baru dengan China, Janjikan Penurunan Tarif Jika Terpilih Kembali

BACA JUGA: Serangan Amerika Serikat di Yaman Tewaskan 92 Orang dalam Empat Hari

BACA JUGA: Cairnya Es di Arktik: Perebutan Strategis antara China, AS, dan Rusia