Mahkamah Pidana Internasional Terbitkan Surat Penangkapan terhadap Vladimir Putin dan Maria Lvova-Belova: Langkah Penting Menuju Keadilan Internasional

Mahkamah Pidana Internasional Terbitkan Surat Penangkapan terhadap Vladimir Putin dan Maria Lvova-Belova: Langkah Penting Menuju Keadilan Internasional

bcouleur.com,12 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Putin: Surat penangkapan presiden Rusia diterbitkan atas dasar tuduhan  kejahatan perang - BBC News Indonesia

Den Haag, Belanda – Pada tanggal 17 Maret 2023, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag secara resmi mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Maria Alekseyevna Lvova-Belova. Keduanya dituduh terlibat dalam kejahatan perang, khususnya terkait dengan deportasi dan pemindahan anak-anak Ukraina secara ilegal dari wilayah pendudukan ke Federasi Rusia.

Langkah ini merupakan perkembangan penting dalam upaya internasional untuk menuntut akuntabilitas atas kejahatan yang terjadi selama invasi Rusia ke Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari 2022.


Dasar Tuduhan ICC: Deportasi Ilegal Anak-Anak Ukraina

WATCH: Can Putin actually be arrested?

Menurut pernyataan resmi dari ICC, baik Vladimir Putin maupun Maria Lvova-Belova diduga bertanggung jawab secara pidana atas:

  • Deportasi ilegal penduduk (anak-anak) dari wilayah yang diduduki di Ukraina ke wilayah Federasi Rusia, yang merupakan pelanggaran terhadap Pasal 8(2)(a)(vii) dan 8(2)(b)(viii) Statuta Roma.

  • Partisipasi aktif, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam perencanaan dan pelaksanaan kejahatan tersebut.

Jaksa ICC, Karim A.A. Khan KC, menjelaskan bahwa penyelidikan menemukan bukti kuat adanya kebijakan sistematis yang difasilitasi oleh negara Rusia untuk memindahkan anak-anak dari wilayah-wilayah pendudukan, seperti Donetsk dan Luhansk, ke dalam yurisdiksi Federasi Rusia. Bukti ini termasuk dokumen resmi, rekaman video, pernyataan publik pejabat Rusia, serta kesaksian korban dan saksi.


Profil Para Tersangka: Vladimir Putin dan Maria Lvova-BelovaMaria Lvova-Belova visits DPR and LPR • President of Russia

Vladimir Vladimirovich Putin

Sebagai Presiden Federasi Rusia dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Vladimir Putin dituduh memegang tanggung jawab komando dan pengawasan atas operasi militer serta kebijakan sipil yang dilaksanakan selama invasi ke Ukraina. Dalam kapasitasnya, ia dituduh tidak hanya mengetahui tetapi juga mendukung dan menyetujui tindakan deportasi tersebut.

Maria Alekseyevna Lvova-Belova

Lvova-Belova menjabat sebagai Komisaris Presiden untuk Hak Anak sejak Oktober 2021. Ia menjadi wajah publik dari program adopsi anak-anak Ukraina di Rusia. Ia secara terbuka membicarakan proses pemindahan anak-anak dari wilayah-wilayah yang dikuasai militer Rusia, bahkan menyatakan bahwa dirinya sendiri mengadopsi seorang anak dari Mariupol.

Pernyataan publik tersebut dianggap oleh ICC sebagai pengakuan eksplisit terhadap keterlibatannya dalam tindak pidana yang sedang diselidiki.


Konteks Hukum Internasional: Pelanggaran Terhadap Konvensi Jenewa

Maria Lvova-Belova Ignores ICC Arrest Warrant to Give Speech at the UN  Security Council

Dalam hukum humaniter internasional, deportasi paksa dan pemindahan penduduk sipil dari wilayah pendudukan ke wilayah negara pendudukan merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa IV (1949). Ini dikategorikan sebagai kejahatan perang di bawah Statuta Roma, yang merupakan dasar hukum pendirian ICC.

Statuta Roma dalam Pasal 27 juga menyatakan bahwa tidak ada kekebalan hukum bagi kepala negara, yang berarti seorang presiden aktif pun dapat diadili jika terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.


Reaksi Rusia: Penolakan Keras dan Tuduhan Politisasi

María Lvova-Belova - Wikipedia, la enciclopedia libre

Pemerintah Rusia segera menanggapi keputusan ICC dengan menyatakan bahwa surat perintah tersebut tidak memiliki legitimasi hukum karena:

  • Rusia bukan negara pihak Statuta Roma, sehingga tidak mengakui yurisdiksi ICC.

  • Menilai bahwa keputusan ini adalah bagian dari kampanye politisasi lembaga internasional oleh negara-negara Barat.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa, “Kami menganggap keputusan ini sebagai batal demi hukum dan tidak sah. Rusia, seperti banyak negara lain, tidak mengakui ICC dan tidak tunduk pada kewenangannya.”

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut langkah tersebut sebagai “tindakan provokatif yang tidak memiliki dasar hukum.”


Respon Ukraina dan Dunia Internasional

The moment the ICC went after Putin - JusticeInfo.net

Sebaliknya, Ukraina menyambut baik keputusan ini. Presiden Volodymyr Zelensky dalam pernyataan resminya menyebut bahwa:

“Ini adalah keputusan bersejarah. Dunia telah menerima sinyal bahwa keadilan tidak akan pernah menyerah.”

Jaksa Agung Ukraina, Andriy Kostin, menambahkan bahwa Ukraina telah mengumpulkan dan menyerahkan lebih dari 40.000 dokumen dan bukti elektronik yang mendukung tuduhan terhadap pejabat Rusia.

Negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara anggota NATO juga menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan ini. Meskipun AS bukan anggota ICC, Menteri Luar Negeri Antony Blinken menekankan pentingnya akuntabilitas dan menghormati proses hukum internasional.


Implikasi Praktis: Apa Artinya Surat Penangkapan Ini?

Meeting with Commissioner for Children's Rights Maria Lvova-Belova •  President of Russia

Meskipun kecil kemungkinan bahwa Putin dan Lvova-Belova akan ditangkap dalam waktu dekat, penerbitan surat ini memiliki dampak signifikan:

  1. Batasan Perjalanan Internasional: Keduanya tidak dapat bepergian ke 124 negara anggota ICC tanpa risiko ditangkap dan diserahkan ke Den Haag.

  2. Tekanan Politik dan Diplomatik: Negara-negara yang mempertahankan hubungan dengan Rusia menghadapi tekanan internasional untuk tidak memberi perlindungan kepada tersangka.

  3. Preseden Hukum Internasional: Ini menandai pertama kalinya ICC mengeluarkan surat penangkapan terhadap kepala negara besar dengan kekuatan militer nuklir aktif.


Tantangan Penegakan: Dilema Hukum dan Realitas Politik

Enforcement atau pelaksanaan surat penangkapan ini sangat bergantung pada kemauan politik negara-negara pihak. Rusia, yang tidak mengakui ICC, jelas tidak akan menyerahkan Putin atau Lvova-Belova. Bahkan, negara-negara sekutu Rusia kemungkinan juga tidak akan mengambil tindakan penahanan.

Namun, sejarah mencatat bahwa beberapa tokoh yang pernah menghindari hukum internasional pada akhirnya ditangkap atau menyerahkan diri, seperti mantan Presiden Serbia Slobodan Milošević atau mantan pemimpin Liberia Charles Taylor.


Kesimpulan: Langkah Simbolik dengan Dampak Nyata

Keputusan ICC ini adalah langkah monumental dalam sejarah hukum internasional modern. Meskipun dampaknya belum langsung terlihat dalam bentuk penangkapan, keputusan ini mengukuhkan prinsip penting bahwa tidak ada pemimpin, sekuat apapun, yang kebal terhadap hukum internasional.

Dengan menyoroti nasib anak-anak yang menjadi korban dari agresi militer, komunitas internasional mempertegas bahwa kejahatan terhadap kelompok paling rentan tidak akan dibiarkan begitu saja.

“Justice may be slow, but it is inevitable.” – Karim Khan, Jaksa ICC

BCA JUGA: Di Tengah Perang Dagang dengan AS, China Akan Kunjungi Asia Tenggara

BACA JUGA: Dibongkar Malah Keluar Ular: Kenapa Mereka Ngotot Ingin Mengambil Jasad Nabi Yusuf?

BACA JUGA: Imbas Kisruh Samsat Soreang, Bupati Bandung Siapkan Lokasi Tambahan Pembayaran PKB