jose mourinho

Mourinho Kembali ke Real Madrid, Apa Efeknya Sampai September 2026?

bcouleur – Tiga belas tahun ternyata tidak cukup untuk benar-benar memisahkan Jose Mourinho dan Real Madrid.

Ketika Mourinho meninggalkan Santiago Bernabeu pada 2013, rasanya hubungan tersebut sudah selesai. Tiga musim penuh drama, perseteruan, kemenangan, kekalahan, rekor 100 poin di La Liga, tiga semifinal Liga Champions, dan sederet cerita ruang ganti membuat era pertamanya terasa seperti sebuah film yang tidak membutuhkan sekuel.

Madrid kemudian memenangkan enam Liga Champions sejak kepergiannya.

Bernabeu berubah.

Generasi pemain berubah.

Sepak bola berubah.

Mourinho sendiri berkeliling Eropa.

Tetapi pada 11 Juni 2026, Real Madrid membuat pengumuman yang rasanya seperti membuka kembali buku lama.

Jose Mourinho kembali menjadi pelatih Real Madrid.

Bukan sebagai caretaker.

Bukan untuk enam bulan.

Real Madrid mengontrak Mourinho selama tiga musim hingga 30 Juni 2029. Ia mulai bekerja bersama tim ketika pramusim dimulai pada Juli.

The Special One pulang.

Pertanyaannya sederhana.

Apakah Madrid mendapatkan Mourinho yang sama seperti 2010?

Sampai 19 September 2026, jawabannya mulai terlihat.

Dan ternyata Mourinho 2.0 bukan sekadar nostalgia.

Mourinho Kembali ke Real Madrid, tetapi Madrid yang Ia Temui Sudah Berbeda

Mourinho periode pertama datang ke Madrid dengan satu misi besar.

Menghentikan Barcelona era Pep Guardiola.

Situasinya sekarang sangat berbeda.

Mourinho kembali ke sebuah klub yang sudah terbiasa memenangkan Liga Champions setelah kepergiannya. Pemain yang ia tangani juga bukan Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Mesut Ozil, Xabi Alonso, Sergio Ramos, atau Angel Di Maria.

Sekarang ada Kylian Mbappe.

Vinicius Junior.

Jude Bellingham.

Federico Valverde.

Eduardo Camavinga.

Arda Güler.

Dean Huijsen.

Trent Alexander-Arnold.

Thibaut Courtois.

Nama-namanya berbeda, tetapi ekspektasinya tidak berubah.

Madrid tetap Madrid.

Dan Mourinho sendiri memahami itu sejak awal.

Ketika memulai pekerjaan pada Juli, ia mengatakan bekerja untuk Real Madrid merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Mourinho juga berbicara mengenai keinginannya membangun budaya kerja, tanggung jawab, dan ambisi.

Kalimatnya terdengar seperti Mourinho klasik.

Tetapi perubahan paling menarik justru muncul ketika pertandingan dimulai.

Efek Pertama Mourinho: Madrid Kembali Terlihat Sangat Pragmatis

Kalau melihat enam pertandingan La Liga pertama Mourinho musim ini, ada satu hal yang cukup jelas.

Madrid tahu cara menang.

Mereka membuka liga dengan kemenangan 2-1 atas Espanyol.

Setelah itu Real Sociedad dihajar 4-1.

Málaga dihancurkan 4-0.

Lalu datang kekalahan pertama, 0-1 dari Real Betis.

Madrid merespons dengan mengalahkan Rayo Vallecano 4-1.

Kemudian menang dramatis 3-2 di kandang Elche.

Artinya dari enam pertandingan La Liga sampai 19 September, Mourinho menghasilkan lima kemenangan dan satu kekalahan.

Madrid mencetak 17 gol dan kebobolan enam.

Tambahkan Liga Champions, Madrid juga mengalahkan Inter Milan 2-1 di Bernabeu.

Secara angka, awalnya bagus.

Tetapi kalau hanya melihat skor, kita kehilangan bagian paling menarik dari cerita Mourinho 2.0.

Madrid menang.

Namun Mourinho belum puas.

Mourinho Ternyata Masih Mourinho: Menang Saja Tidak Cukup

Madrid mengalahkan Inter 2-1.

Pertandingan selesai.

Tiga poin masuk.

Pelatih lain mungkin datang ke konferensi pers dan mengatakan timnya menunjukkan karakter luar biasa.

Mourinho?

Ia malah mengeluhkan pertandingan yang terlalu liar.

Menurut Mourinho, pertandingan tersebut bisa berakhir 5-1 atau 6-1 untuk Madrid, tetapi bisa juga menjadi 6-6. Ia mengatakan tidak menyukai pertandingan seperti itu dan menginginkan timnya memiliki kontrol yang lebih besar.

Itu memberikan petunjuk penting mengenai Madrid yang sedang ia bangun.

Mourinho tidak hanya ingin Madrid menyerang.

Ia ingin Madrid mengontrol kapan pertandingan menjadi agresif dan kapan pertandingan harus dimatikan.

Itu berbeda.

Dan problem tersebut ternyata muncul lagi beberapa hari kemudian.

Menang 4-1, tetapi Bernabeu Masih Bersiul

Rayo Vallecano datang ke Santiago Bernabeu pada 12 September.

Madrid menghajar mereka 4-1.

Mbappe mencetak dua gol. Álvaro Carreras dan Jude Bellingham ikut masuk papan skor.

Kalau melihat hasilnya saja, seharusnya tidak ada masalah.

Empat gol.

Tiga poin.

Pesta.

Tetapi pertandingan mempunyai dua wajah.

Madrid sangat dominan pada babak pertama, lalu intensitasnya menurun pada babak kedua. Rayo mulai mendapatkan ruang dan Bernabeu akhirnya mengeluarkan siulan.

Mourinho bahkan mengakui konsentrasi tim menurun. Build-up mulai menghasilkan kesalahan dan pressing tidak lagi berjalan seperti babak pertama.

Ia menggambarkan pertandingan tersebut praktis selesai dalam 45 menit karena target Madrid memang memulai dengan sangat kuat dan secepat mungkin mengamankan pertandingan.

Di sinilah efek Mourinho terlihat.

Madrid mulai mempunyai pressing yang lebih agresif.

Tetapi mereka belum bisa melakukannya selama 90 menit.

Pressing Mulai Menjadi Identitas Baru

Setelah kemenangan 4-0 atas Málaga pada akhir Agustus, Mourinho memberikan komentar yang menarik.

Ia mengatakan timnya mulai membangun organisasi yang memungkinkan mereka melakukan pressing, “menggigit”, dan merebut bola di area tinggi. Namun Mourinho juga mengakui timnya belum mempunyai energi dan mentalitas untuk mempertahankannya sepanjang pertandingan.

Kalimat itu sebenarnya menjelaskan banyak hal.

Madrid Mourinho sekarang tidak selalu menunggu di blok rendah seperti stereotip Mourinho yang sering muncul di internet.

Mereka justru berusaha menekan lebih tinggi.

Tetapi struktur tetap menjadi kata kuncinya.

Mourinho tidak suka chaos.

Ia ingin pemain menyerang ketika waktunya menyerang.

Press ketika waktunya press.

Dan ketika unggul?

Kontrol pertandingan.

Masalahnya, bagian terakhir itu belum konsisten.

Elche Menunjukkan Problem Terbesar Mourinho 2.0

Kalau ingin melihat apa yang masih salah dari Madrid Mourinho, pertandingan melawan Elche mungkin contoh terbaik.

Madrid unggul 2-0.

Arda Güler mencetak gol melalui tendangan bebas yang mengenai kiper sebelum masuk.

Mbappe membuat skor menjadi 2-0.

Secara teori, pertandingan selesai.

Lawan berada dalam masalah.

Madrid tinggal mengontrol.

Tetapi justru di situlah semuanya berantakan.

Elche mencetak gol pada menit ke-71.

Kemudian menyamakan skor pada menit ke-83.

Madrid yang seharusnya membawa pulang kemenangan nyaman tiba-tiba berada dalam pertandingan 2-2.

Carlos Espí akhirnya menyelamatkan Madrid dengan gol pada injury time setelah kombinasi Bellingham dan Mbappe. Madrid menang 3-2.

Tiga poin tetap tiga poin.

Tetapi Mourinho tidak terlihat puas.

Ia mengatakan ada pertandingan yang terlihat sudah selesai, Madrid mempunyai tiga, empat, bahkan lima kesempatan untuk menghabisi lawan, tetapi gagal melakukannya. Setelah itu tim kehilangan kontrol.

Itulah pekerjaan rumah terbesar Mourinho sampai September.

Bukan menciptakan peluang.

Bukan pula mencetak gol.

Tetapi membunuh pertandingan ketika lawan sudah berada di ujung tanduk.

Mbappe Tetap Menjadi Senjata Utama

Lalu bagaimana dengan pemain?

Di sinilah efek Mourinho semakin menarik.

Kylian Mbappe tetap menjadi salah satu pusat serangan Madrid.

Ia mencetak dua gol ketika Madrid menghajar Rayo 4-1 dan kembali mencetak gol serta memberikan assist untuk gol kemenangan Carlos Espí melawan Elche.

Tetapi Mourinho tidak memperlakukan Mbappe sebagai pemain yang harus dibebaskan dari pekerjaan kolektif.

Ketika Mbappe mendapatkan siulan dalam pertandingan melawan Inter, Mourinho tidak menyerang suporter. Ia mengatakan tidak akan mengomentari reaksi penonton, tetapi memperlihatkan dukungannya kepada sang pemain secara langsung setelah pergantian.

Ini Mourinho klasik dalam versi yang sedikit lebih tenang.

Lindungi pemain di depan publik.

Tuntut mereka di dalam sistem.

Vinicius Mendapat Mourinho Treatment

Vinicius Junior mungkin menjadi kasus yang lebih menarik.

Mourinho mengatakan Vini bekerja sangat keras dan memberikan semuanya untuk tim. Tetapi ia juga tidak menutupi fakta bahwa Madrid membutuhkan Vini dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan pertandingan.

Setelah laga melawan Inter, Mourinho menyinggung kesempatan ketika Vinicius sebenarnya bisa menghabisi pertandingan. Menurutnya, Vini dalam kondisi puncak biasanya mampu menyelesaikan situasi seperti itu.

Ini bukan kritik brutal.

Tetapi pesannya jelas.

Kerja keras dihargai.

Namun superstar tetap dituntut menghasilkan sesuatu.

Mourinho tidak sedang membangun tim tempat tiga atau empat bintang hanya menunggu bola.

Semua harus terlibat.

Jude Bellingham Tetap Menjadi Pemain yang Sulit Disentuh

Kalau ada pemain yang terlihat sangat cocok dengan Mourinho secara karakter, Jude Bellingham mungkin jawabannya.

Energi.

Agresivitas.

Kemampuan masuk kotak penalti.

Keberanian duel.

Mentalitas kompetitif.

Dan kemampuan memengaruhi pertandingan tanpa harus selalu memegang bola.

Mourinho bahkan menyebut Bellingham sebagai gelandang yang luar biasa ketika membicarakan kandidat Ballon d’Or.

Saat melawan Elche, Bellingham kembali menunjukkan pengaruhnya.

Pada proses gol kemenangan, ia bergerak dari kiri dan memberikan bola kepada Mbappe sebelum striker Prancis tersebut mengirim assist kepada Carlos Espí.

Bellingham di Madrid Mourinho terlihat bukan sekadar gelandang.

Ia menjadi salah satu penghubung antara struktur dan kekacauan.

Ketika pertandingan membutuhkan sesuatu yang tidak tercantum dalam papan taktik, Jude bisa menciptakannya.

Camavinga Mulai Hidup Lagi

Salah satu efek Mourinho yang lebih menarik terjadi kepada Eduardo Camavinga.

Pada akhir Agustus, Mourinho secara terbuka memuji penampilannya.

Ia mengatakan Camavinga, pemain yang menurutnya tidak selalu mendapatkan apresiasi besar, memainkan pertandingan yang sangat bagus.

Laporan AS pada 19 September bahkan memasukkan Camavinga sebagai salah satu pemain yang mengalami kebangkitan di bawah Mourinho bersama Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen.

Ini menarik karena karakter Camavinga sebenarnya cocok dengan kebutuhan Mourinho.

Ia atletis.

Bisa membawa bola.

Bisa merebut bola.

Bisa turun membantu build-up.

Bisa mengisi beberapa posisi.

Dalam struktur double pivot yang banyak digunakan Mourinho pada awal musim, pemain seperti Camavinga memberikan fleksibilitas luar biasa.

Analisis pramusim juga sudah melihat penggunaan double pivot sebagai salah satu ciri yang mulai dibangun Mourinho, dengan satu pemain memberikan keamanan sementara pemain lain mendapat kebebasan lebih besar bergerak ke depan.

Dean Huijsen Mendapat Pelajaran ala Mourinho

Kalau Camavinga mendapat kepercayaan, Dean Huijsen mendapat sesuatu yang sangat Mourinho:

tuntutan.

Mourinho menyukai kemampuan Huijsen membawa bola dari belakang.

Tetapi ia menegaskan satu prinsip sederhana.

Bek tengah pertama-tama harus bisa bertahan.

Baru setelah itu kemampuan passing menjadi bonus.

Menurut Mourinho, Huijsen menunjukkan perkembangan dalam duel dan coverage selama beberapa pertandingan awal.

Huijsen sendiri mengakui Mourinho terus menuntutnya dan mendorongnya berkembang.

Ia juga mengatakan Mourinho menekankan bahwa sepak bola bukan hanya soal memainkan bola dari belakang.

Kalimat tersebut terdengar sederhana.

Tetapi itu mungkin menjelaskan filosofi Mourinho 2.0 lebih baik daripada diagram taktik sepanjang sepuluh halaman.

Bek harus bertahan.

Penyerang harus bekerja.

Bintang harus berlari.

Dan tim harus menang.

Trent Alexander-Arnold Justru Menjadi Eksperimen

Kasus Trent lebih rumit.

Ada laporan yang menggambarkan dirinya mulai hidup kembali di bawah Mourinho, tetapi data penggunaannya belum memberikan gambaran sesederhana itu.

The Guardian mencatat Trent baru menjadi starter dalam dua dari enam pertandingan liga sampai pertengahan September dan menghadapi kompetisi untuk posisi reguler.

Mourinho bahkan mencoba sesuatu yang menarik ketika melawan Inter.

Trent dimainkan di lini tengah.

Mourinho mengakui karakteristik bermain sebagai midfielder berbeda dengan full-back. Trent menurutnya memahami tugas taktikalnya dengan baik, tetapi ada beberapa kehilangan bola karena orientasi ruangnya berbeda ketika bermain di tengah.

Artinya Mourinho belum melihat Trent hanya sebagai “bek kanan yang harus overlap”.

Ia sedang mencari fungsi terbaiknya.

Apakah akhirnya berhasil?

September terlalu dini untuk menjawab.

Arda Güler Mulai Memaksa Mourinho Berpikir

Ada satu pemain lain yang menarik: Arda Güler.

Dalam kemenangan atas Rayo, Güler hanya mendapatkan sekitar 20 menit tetapi penampilannya cukup mencuri perhatian. AS bahkan menggambarkannya sebagai pemain yang dengan cepat memperlihatkan mengapa dirinya layak mendapatkan peran lebih besar.

Beberapa hari kemudian melawan Elche, Güler mencetak gol pembuka Madrid melalui tendangan bebas.

Ini menciptakan problem yang menyenangkan bagi Mourinho.

Madrid mempunyai banyak pemain ofensif.

Semua ingin bermain.

Tetapi Mourinho biasanya tidak membangun tim berdasarkan reputasi semata.

Ia membutuhkan keseimbangan.

Kalau Güler terus menghasilkan sesuatu ketika diberi menit, tekanan untuk memasukkannya ke starting XI akan semakin besar.

Dan ketika itu terjadi, seseorang harus kehilangan tempat.

Madrid Lebih Mourinho, tetapi Belum Sepenuhnya Mourinho

Ada pola menarik dari seluruh pertandingan sampai September.

Madrid mulai menunjukkan karakter yang diinginkan pelatihnya.

Mereka lebih agresif ketika melakukan pressing.

Struktur double pivot mulai terlihat.

Ada tuntutan lebih besar terhadap kontribusi defensif pemain menyerang.

Bek dituntut memenangkan duel sebelum memikirkan estetika build-up.

Dan yang paling penting, Madrid mulai menunjukkan kemampuan memenangkan pertandingan ketika permainan tidak berjalan sempurna.

Tetapi ada kontradiksi.

Tim Mourinho terkenal dengan kontrol.

Madrid Mourinho 2026 justru beberapa kali kehilangan kontrol.

Inter membuat pertandingan menjadi liar.

Rayo mampu membuat babak kedua jauh lebih tidak nyaman.

Elche bangkit dari 0-2 menjadi 2-2.

Bahkan satu-satunya kekalahan liga sejauh ini datang melawan Betis, ketika Madrid sebenarnya menguasai banyak bagian pertandingan tetapi gagal mengubah dominasi menjadi gol. Mourinho mengatakan timnya menciptakan banyak peluang dan merasa Madrid pantas mendapatkan lebih.

Jadi fondasinya terlihat.

Bangunannya belum selesai.

Efek Mourinho Bukan Cuma Taktik, tetapi Standar

Mungkin perubahan terbesar Mourinho sampai September bukan formasi.

Bukan 4-2-3-1.

Bukan double pivot.

Bukan pressing.

Melainkan standar.

Madrid bisa menang 4-1 dan Mourinho masih membicarakan penurunan konsentrasi.

Madrid bisa mengalahkan Inter dan ia masih mengeluh pertandingan terlalu kacau.

Madrid bisa menang 3-2 di kandang Elche dan responsnya pada dasarnya adalah: tiga poin, tetapi ini tidak cukup bagus.

Itulah Mourinho.

Ia menciptakan situasi ketika kemenangan tidak otomatis berarti pekerjaan selesai.

Dan di Real Madrid, pendekatan tersebut sangat cocok sekaligus sangat berbahaya.

Cocok karena Bernabeu mempunyai standar yang sama gilanya.

Berbahaya karena ketika hasil mulai buruk, tekanan bisa meledak sangat cepat.

Ujian Sebenarnya Datang Setelah September

Sampai 19 September, Mourinho sudah mempunyai bukti bahwa idenya bisa bekerja.

Lima kemenangan dari enam pertandingan liga.

Kemenangan atas Inter di Champions League.

Tujuh pertandingan kompetitif menghasilkan enam kemenangan dan hanya satu kekalahan.

Tetapi jadwal berikutnya memberikan ujian yang berbeda.

Pada 20 September, Madrid akan bertandang menghadapi Atlético Madrid di Metropolitano. Mourinho sendiri mengatakan derby mempunyai dimensi sejarah, budaya, dan emosi, walaupun pada akhirnya tetap memperebutkan tiga poin.

Pertandingan seperti inilah yang mulai memberikan jawaban lebih serius.

Bisakah Madrid Mourinho mengontrol pertandingan besar?

Bisakah pressing tetap berjalan ketika lawannya mampu keluar dari tekanan?

Bisakah lini belakang bertahan tanpa Courtois harus menjadi penyelamat?

Bisakah Mbappe dan Vinicius tetap berbahaya sambil menjalankan tuntutan kolektif?

Dan ketika pertandingan berada pada menit ke-80 dengan skor 1-0, apakah Madrid bisa membunuh pertandingan tanpa memberikan lawan kesempatan kembali?

Itulah level berikutnya.

The Special One Pulang, tetapi Madrid 2.0 Masih dalam Proses

Tiga belas tahun setelah kepergiannya, Mourinho kembali ke tempat yang mungkin paling cocok dengan kepribadiannya.

Real Madrid.

Sampai 19 September 2026, efeknya sudah terlihat.

Madrid lebih terstruktur.

Pressing tinggi mulai menjadi bagian permainan.

Double pivot memberikan keamanan di tengah.

Camavinga mendapatkan momentum baru.

Huijsen dituntut menjadi bek yang lebih komplet.

Trent digunakan dengan cara yang tidak selalu konvensional.

Arda Güler terus mengetuk pintu starting XI.

Bellingham tetap menjadi pusat energi.

Mbappe terus menghasilkan gol.

Vinicius mendapat kombinasi perlindungan dan tuntutan yang sangat khas Mourinho.

Dan yang paling penting, Madrid menang.

Tetapi jangan tertipu angka.

Proyek ini belum selesai.

Mourinho sendiri berkali-kali mengakui masalah yang sama: timnya belum selalu mampu mempertahankan intensitas dan kontrol sepanjang pertandingan.

Itulah paradoks Real Madrid Mourinho sampai September.

Mereka sudah cukup bagus untuk memenangkan sebagian besar pertandingan.

Tetapi belum cukup matang untuk membuat Mourinho tenang.

Mungkin justru itu yang membuat comeback ini menarik.

Mourinho tidak kembali ke Bernabeu untuk menghidupkan kembali 2011 atau 2012.

Cristiano tidak akan keluar dari lorong stadion.

Özil tidak akan memberikan through ball.

Ramos tidak akan berdiri di belakang.

Ini tim baru.

Generasi baru.

Sepak bola baru.

Dan Mourinho juga harus menjadi Mourinho yang baru.

Hasil awal menunjukkan prosesnya sudah berjalan. Tetapi derby Madrid, perjalanan panjang La Liga, dan malam-malam Liga Champions akan menentukan apakah Mourinho 2.0 benar-benar mampu menciptakan dinasti keduanya di Bernabeu atau apakah September 2026 hanya menjadi honeymoon yang sangat meyakinkan.

Untuk sementara, satu hal sudah jelas.

The Special One memang pulang. Dan Real Madrid mulai terlihat seperti tim Jose Mourinho lagi.

Referensi

Real Madrid, “Official Announcement: José Mourinho”, 11 Juni 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/club/latest-news/comunicado-oficial-mourinho-11-06-2026

Real Madrid, “Mourinho: Working for Real Madrid is an honor and a responsibility”, 10 Juli 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/latest-news/mourinho-estoy-para-ayudar-a-todos-a-ser-mejores-10-07-2026

Real Madrid, “Mourinho: I’m very happy with everyone”, 30 Agustus 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/mourinho-30-08-2026

Real Madrid, “Mourinho: Sometimes you lose and don’t know why or how to explain it”, 4 September 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/mourinho-04-09-2026

Real Madrid, “Mourinho: It was a tough match with three crucial points”, 8 September 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/mourinho-08-09-2026

Real Madrid, “Mourinho: The aim was to start strongly and wrap the game up quickly”, 12 September 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/mourinho-12-09-2026

Real Madrid, “El Real Madrid vence en Elche”, 15 September 2026.
https://www.realmadrid.com/es-ES/noticias/futbol/primer-equipo/cronicas/cronica-elche-real-madrid-j6-liga-15-09-2026

Real Madrid, “Mourinho: In the face of difficulty, this team reacts and wins”, 15 September 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/rueda-de-prensa-de-mourinho-post-elche-real-madrid-j6-liga-15-09-2026

Real Madrid, “Mourinho: Derbies are about history, culture and the passion of the fans, players and managers”, 19 September 2026.
https://www.realmadrid.com/en-US/news/football/first-team/press-conference/mourinho-19-09-2026

LaLiga, “Real Madrid — Latest Results”, diakses 19 September 2026.
https://www.laliga.com/en-US/clubs/real-madrid/results

AS, “Mourinho resucita a Trent, Camavinga y Huijsen”, 19 September 2026.
https://as.com/futbol/primera/mourinho-resucita-a-trent-camavinga-y-huijsen-f202609-n/

The Guardian, “Trent Alexander-Arnold’s England recall is based on patchy evidence”, 18 September 2026.
https://www.theguardian.com/football/2026/sep/18/trent-alexander-arnold-england-recall-patchy-evidence