JAKARTA, BCOULEUR.COM – Hampir dua dekade lamanya, Ramin (56) menjalani profesi sebagai porter di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Sejak memulai pekerjaannya pada tahun 2005, Ramin telah merasakan berbagai suka duka dalam melayani penumpang yang membutuhkan jasanya untuk membawa barang bawaan.
Di tengah gempuran teknologi dan perubahan zaman, profesi porter seperti Ramin masih memiliki tempat tersendiri, meski tak jarang cerita perjuangannya menyentuh hati. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika kerja kerasnya dihargai dengan bayaran minim.
BACA JUGA : selamat dari kecelakaan maut di tol malang fathiyya zahra bersyukur masih hidup
“Saya pernah diminta angkat koper seberat 50 kilogram, tapi hanya dibayar Rp 10.000,” ungkap Ramin saat ditemui di Stasiun Gambir, Selasa (24/12/2024).
Awal Karier sebagai Porter
Ramin memulai kariernya sebagai porter di Stasiun Gambir pada usia 37 tahun. Kala itu, profesi porter menjadi salah satu pilihan pekerjaan yang memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meski harus bekerja dengan fisik.
“Dulu saya mulai karena butuh pekerjaan. Tapi lama-lama, saya nikmati. Setiap hari bertemu orang baru, membantu mereka membawa barang,” ujar Ramin.
Dalam sehari, Ramin mengaku bisa melayani hingga 10 penumpang, tergantung jumlah barang bawaan dan kebutuhan mereka. Meski demikian, pekerjaan ini tidak selalu menjanjikan penghasilan besar.
Pengalaman Dibayar Minim
Di balik jasanya yang tak ternilai, Ramin kerap menerima bayaran yang sangat minim. Pengalaman dibayar Rp 10.000 untuk mengangkat koper seberat 50 kilogram menjadi salah satu momen yang tak terlupakan.
“Kadang ada yang bayar lebih, tapi ada juga yang bayar sangat kecil. Saya anggap itu sudah rezeki, meski rasanya sedih juga,” kata Ramin.
Selain bayaran yang kecil, ia juga harus menghadapi tantangan fisik, seperti mengangkat koper berat atau membawa barang dalam jumlah banyak sekaligus.
Tantangan Profesi Porter di Era Modern
Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi tantangan besar bagi profesi porter. Dengan adanya troli otomatis dan escalator, banyak penumpang yang memilih membawa barangnya sendiri.
Namun, bagi sebagian orang, porter seperti Ramin tetap menjadi pilihan, terutama mereka yang membawa barang dalam jumlah besar atau bepergian bersama keluarga.
“Masih ada penumpang yang butuh jasa porter, terutama saat ramai seperti liburan atau mudik,” ujar Ramin.
Suka Duka Profesi Porter
Meski sering menghadapi tantangan, Ramin mengaku banyak momen menyenangkan selama 19 tahun bekerja. Salah satunya adalah ketika ia merasa dihargai oleh penumpang yang memberikan bayaran lebih atau ucapan terima kasih tulus.
“Pernah ada penumpang yang kasih bayaran lebih, sambil bilang, ‘Terima kasih sudah membantu.’ Itu yang bikin saya semangat,” kenangnya.
Namun, tidak sedikit pula pengalaman pahit yang harus ia lalui, seperti bekerja di tengah hujan deras atau menghadapi penumpang yang kurang menghargai jerih payahnya.
Harapan untuk Masa Depan
Di usianya yang sudah tidak muda, Ramin menyadari bahwa ia tidak bisa terus bekerja sebagai porter. Ia berharap pemerintah atau pengelola stasiun bisa memberikan program pelatihan atau bantuan untuk para porter agar mereka memiliki keterampilan lain yang dapat dimanfaatkan di masa depan.
“Kalau ada pelatihan atau bantuan usaha kecil, mungkin itu bisa membantu kami yang sudah tua,” ungkap Ramin.
Profesi Porter yang Semakin Langka
Profesi porter seperti Ramin kini semakin jarang ditemukan, terutama di kota-kota besar. Perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih mandiri dan kehadiran teknologi membuat jasa porter semakin berkurang.
Namun, kisah Ramin dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa profesi ini tetap memiliki nilai, baik dari segi kemanusiaan maupun budaya pelayanan. Mereka adalah bagian dari perjalanan setiap penumpang yang sering kali terlupakan.
Kesimpulan
Kisah Ramin, seorang porter di Stasiun Gambir, menjadi potret perjuangan profesi yang penuh tantangan di tengah modernisasi. Selama hampir 20 tahun, ia telah melayani penumpang dengan dedikasi tinggi, meski sering kali dihargai dengan bayaran minim.
Pengalamannya menunjukkan pentingnya apresiasi terhadap profesi-profesi yang sering dianggap sepele. Di balik jasanya, ada kerja keras dan nilai kemanusiaan yang tidak ternilai.
Ramin berharap masa depan yang lebih baik bagi para porter seperti dirinya, dengan dukungan pelatihan atau bantuan usaha yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan di usia senja.